Order 0857 85 3030 44, | Baca ABOUT US Sebelum Order !!!!


The Shop

LoadingUpdating...
Film Perjuangan Indonesia

 

Hell Ships - Romusha To Burma and Thailand

perjalanan para tawanan perang jepang romusha dari indonesia menuju thailand dan burma dengan kereta api dan kapal laut/kapal perang




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.100.000

Einde Van Indie - World War In Indonesia

dokumenter perang indonesia tahun 1945 berisi rekaman asli jaman dulu. sebanyak 3 dvd




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.300.000

Hell Ships - Romusha Indonesia

dokumenter langka perjalanan tawanan perang romusha di atas kapalperang jepang selama perang dunia dan dikirim / diambil dari seluruh pelosok indonesia.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.100.000

Dokumenter Papua 1949 1962 - 6 Disc

dokumenter ini berisi tentang rekaman asli keadaan indonesia timur khususnya maluku dan papua.

paket ini copy original dan berisi antara lain

1. Papua War 1949-1962 4 Disc
2. Der Molluken 2 Disc

.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.750.000

Film Perjuangan Indonesia - 12 Disc

paket film perjuangan kemerdekaan indonesia ini terdiri dari 12 dvd SEBAGAI BERIKUT

1. Murudeka 17805
2. Komando samber Nyawa
3. Bandung Lautan Api
4. Mereka Kembali
5. Janur Kuning
6. Kereta Api Terakhir
7. Lebak Membara
8. Pasukan Berani Mati
9. Soerabaja 45
10. Max havellar
11. OEROEG
12. bALIBO




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.400.000

Dokumenter Indonesia 1945 - 19 Disc

paket video dokumenter berisi rekaman asli indonesia di jaman kemerdekaan tahun 1945.

paket ini dijual copy original terdiri dari :
1. Nederlands indie 6 Disc
2. Nederlends Indie Films 4 Disc
3. Einde Van Indie 3 disc
4. Onze kolonial 3 Disc
5. Tijdsbeld Nederland 3 Disc

total 19 DVD copy original.

.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.2.000.000

Murudeka 17805

Film Merdeka mengundang kegusaran masyarakat Indonesia di Jepang. Lantaran Jepang terlalu ditampilkan sebagai pahlawan.
Merdeka Sutradara : Yukio Fuji Skenario : Ishimatsu Aibutsu Pemain : Jundai Yamada, Lola Amaria Produksi : Tokyo Film Production Asano-san yang terhormat

…Saya menghimbau agar bagian-bagian adegan film yang tidak patut atau berlebihan dapat dihilangkan. Khususnya adegan seorang nenek tua Indonesia mencium kaki tentara Jepang pada bagian awal film tersebut, yang merendahkan martabat dan melukai hati bangsa Indonesia….

Demikian bunyi surat Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Soemadi D.M. Brotodiningrat, yang diluncurkan Maret silam kepada Katsuaki Asano, Presiden Tokyo Film Production. Tentunya kini kejengkelan Soemadi bertambah hebat. Itu lantaran film Merdeka yang diprotesnya tetap beredar di bioskop-bioskop Jepang tanpa menghilangkan beberapa bagian yang dianggap melukai hati bangsa itu.


next di bawah
Murudeka 17805Detail Produk
Awal "geger" ini bermula dari Juni tahun 2000. Suatu hari, beberapa sineas Jepang mengajukan izin membuat film berjudul Merdeka 17805 atau Dokuritsu 17805 di Indonesia kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang. Mereka bekerja sama dengan Rapi film. Pihak kedutaan kemudian berpendapat bahwa ada beberapa bagian sinopsis yang kurang akurat dan harus diperbaiki. Perekaman film lalu dilaksanakan di Jakarta dan Yogya. Tapi kemudian, tatkala pihak KBRI diundang menghadiri preview pada Februari 2001, alangkah terkejutnya mereka melihat bagaimana film itu menonjolkan Jepang sebagai juru selamat.

Adegan penyambutan pendaratan pasukan Jepang di pantai Jawa, yang melukiskan seorang ibu tua (dimainkan oleh seorang ibu berumur 60 tahun di Kasongan, Yogya) mencium kaki serdadu Jepang sebagai mesias yang ditunggu-tunggu, dianggap keterlaluan. Memang ada ramalan terkenal dari Jayabaya tentang bakal datangnya orang-orang kuning. "Saya bilang ke sutradaranya, ramalan Jayabaya tidak menyebut Jepang juru selamat. Jayabaya hanya menyebut akan datangnya orang kate," kata Syahry Sakidin, Kepala Bagian Penerangan KBRI di Tokyo. Syahry melihat film ini cenderung bertendensi membangkitkan glorifikasi Jepang.

Bagaimana reaksi para penonton Jepang? Dengar pendapat dua orang kakek Jepang yang mengalami pahitnya Perang Dunia II. Watanabe, 90 tahun, ke kantor KBRI untuk menyampaikan bahwa adegan cium kaki itu sangat merendahkan martabat bangsa Indonesia. Ia berkata tegas: "Dame!" (Tidak boleh). Prof. Dr. Fukuoka, M.D., 90 tahun, salah seorang mantan dokter tentara Jepang di Sulawesi utara, yang dahulu memihak Indonesia dan kini Ketua Alumni Kursus Orientasi Indonesia (KOI ), juga sependapat. Warga Jepang ini mengatakan bahwa mereka khawatir, film itu akan membawa semangat militerisme bagi rakyat Jepang. Umumnya pemuda Jepang kini mengalami sindrom takut perang, sejak kekalahan Jepang atas pihak Sekutu "Ini keadaan yang lebih baik ketimbang militerisme yang membawa kehancuran," kata Fukuoka. Akan halnya seorang guru muda bahasa Jepang bernama Chie Kase, ia melihat di balik film ini adalah partai-partai sayap kanan yang selalu berusaha mencuci aib sejarah Jepang. Buktinya? "Koran Sankei Shimbun yang berhaluan kanan memuat resensi film itu sepanjang tiga halaman dalam bentuk iklan. Bukan tak mungkin nanti kelompok kanan membuat film-film sejenis di Cina, Korea, Myanmar, Filipina," demikian Chie Kase mengemukakan analisisnya.

Mengidentifikasi Jepang sebagai juru selamat memang naif. Ucapan Lola di film saat melihat kekasih Jepangnya meninggal dunia sembari berteriak, "Jepang memang kalah perang tapi kamu menang," (lihat Merdeka Versi Fuji-San) memang terlalu simplistik dan murah meriah. Tapi apa benar sesungguhnya sutradara Fuji Yukio dan penulis skenario Ishimatsu Aibutsu sama sekali tak menghiraukan perasaan orang Indonesia? Sesungguhnya, sebelumnya, terlihat pada skenario asli yang menampilkan 10 adegan yang terlalu didramatisir, kesepuluh adegan itu dibuang.

"Adegan tokoh yang saya perankan ada yang seharusnya menangis-nangis meminta tentara Jepang segera berperang membantu Indonesia, dan itu akhirnya dilenyapkan," tutur Lola Amaria, satu-satunya aktris Indonesia yang berperan sebagai Suster Ariyati, yang berpacaran dengan Letnan Shimazaki. Sesungguhnya, dalam adegan itu ia harus merengek-rengek, berkata. "Ayolah, Shimazaki, kita perang. Kalau pemimpinnya tidak ada, kita akan kalah semua."

Sejarah memang berisi paradoks. Peran Jepang dan sikap Indonesia terhadap Jepang di masa itu tentunya tak bisa dibuat sebagai suatu sikap yang homogen. Apalagi mengingat begitu banyak catatan yang memperlihatkan sikap Sukarno terhadap romusha. Itulah sebabnya, membuat film dengan latar belakang sejarah akan selalu penuh problem, terutama karena buku-buku sejarah sering melupakan sikap masyarakat yang luar biasa tertindas di masa pendudukan Jepang.

Akhir film itu mencapai tahun 2000. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Aryati menyembahkan rangkaian bunga di atas dua kuburan serdadu Jepang. Aryati menyatukan tangan memberi hormat: "Di Indonesia, jiwa prajurit yang mengorbankan hidupnya dalam perang kemerdekaan akan naik surga, menjadi bintang yang dinamakan orang bintang kemerdekaan, yang akan membimbing kita," demikian bisiknya.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.50.000

40 Years of Silence - Dokumenter G 30s/PKI

SINOPSIS: “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy” adalah film dokumenter tentang salah satu peristiwa mengerikan dalam sejarah Indonesia. Dalam pembunuhan massal ini, diperkirakan sekitar 500 ribu sampai 1 juta orang secara sistematis dibunuh pada tahun 1965-1966, ketika Jenderal Suharto memulai pembasmian besar-besaran terhadap mereka yang dituduh anggota komunis PKI.
Film ini mengambil pendekatan multi-generasi dan menampilkan testimoni dari empat orang korban dan keluarga mereka yang untuk pertama kalinya mendapat kesempatan berbagi tentang stigmatisasi masyarakat, kekerasan-kekerasan, dan trauma yang mereka alami 40 tahun setelah insiden mengerikan itu.

TRAILER: http://www.youtube.com/watch?v=xtFhMG5cyYA


.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.50.000

Max Havelaar (1976)

Max Havelaar diangkat menjadi asisten Lebak setelah asisten sebelumnya meninggal dunia. Max yang idealis, melihat adanya ketidak-adilan dalam kepemimpinan di Lebak, baik dari pemerintah Hindia Belanda maupun dari kalangan bupati dan priyayi. Max yang merasa sudah bersumpah untuk melindungi rakyat, bersikeras untuk menegakkan keadilan. Akhirnya Max dan istri berkesempatan mendengar cerita sebenarnya di balik meninggalnya asisten terdahulu dari janda Slotering (RIma Melati).




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.100.000

Mereka Kembali 1972

Film Mereka Kembali (1972) :
Kisah "Long March" Divisi Siliwangi dari Yogya kembali ke Bandung, saat gagalnya Perjanjian Renville 18 Desember 1948. Panglima Sudirman memerintahkan Divisi Siliwangi kembali. Perjalanan panjang itu merupakan perjalanan penuh derita dan penuh hambatan, baik menghadapi Belanda, maupun menghadapi gerombolan Darul Islam (DI)




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.35.999

Komando Samber Nyawa

Peleton Serma Hasyim dari Kompi Letnan Widodo adalah pasukan yang terdiri dari orang-orang pemberani. Untuk menggantikan anak buah Sersan Hasyim yang gugur, maka didatangkan Kopral Abimanyu. Abimanyu suka berpakaian perlente, tidak banyak bicara dan tidak disukai Serma Hasyim. Hasyim mengira Abimanyu cuma pandai bersolek dan tak mampu bertempur.

Kenyataannya lain. Abimanyu punya perhitungan matang dan kewaspadaan tinggi. Hal ini ia buktikan ketika ia berhasil menyelamatkan pasukan dari ancaman ranjau darat. Juga andil dalam membebaskan desa Marga Sari dari serbuan Belanda. Dalam penyerbuan markas Belanda di gunung Kapur, Serma Hasyim mengerahkan anak buahnya termasuk Gardini, kekasihnya. Tanpa setahu teman-temannya, Abimanyu memasang dinamit di sekitar gunung Kapur. Gunung Kapur itu dapat diledakkan dan hancur. Kembali Abimanyu yang dianggap bodoh, menunjukkan hebatnya sebagai prajurit.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.35.000

Kereta Api Terakhir

Sebuah kisah dengan latar belakang gagalnya Perjanjian Linggarjati, yang tentu didekati dengan sikap romantik, baik terhadap kepahlawanan, maupun kisah cinta di baliknya. Markas Besar tentara di Yogya memutuskan untuk menarik semua kereta api yang ada ke Yogya. Alat angkut ini penting untuk transportasi. Untuk itu ditugaskan Letnan Sudadi (Rizawan Gayo), Letnan Firman (Pupung Harris), dan Sersan Tobing (Bangun Sugito) untuk mengawal semua kereta yang akan diberangkatkan dari stasiun Purwokerto, dengan kerja sama Kol. Gatot Subroto (Soendjoto Adibroto). Sudadi mengawal kereta yang pertama, Firman dan Tobing mengawal kereta terakhir. Perjalanan kereta terakhir yang penuh hambatan ini yang jadi pokok cerita: pengungsi yang memadati kereta, serangan-serangan Belanda, dll. Diutarakan juga kepahlawanan para pegawai kereta api, terutama kondektur Bronto (Deddy Sutomo). Dan diselipkan kisah cinta antara Firman dan dua Retno yang ternyata merupakan gadis kembar.




 
Berat : 1 kg

Harga: Rp.40.000

Pages: 1 2
 


Switch to our mobile site